Kehidupan manusia di alam padhang ini ibarat roda berputar. Kadang-kadang nasib manusia berada di atas, dan kadang-kadang pula harus menempati posisi pada lapisan paling bawah. Semua berjalan bergantian dan bergilir, sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Orang Jawa menyebut nuting jaman kelakone. Bungah susah, bathi rugi, padhang peteng adalah warna-warni yang senantiasa menghiasi kenyataan hidup sehari-hari. Antara satu dengan yang lainnya, masing-masing saling melengkapi dan saling membutuhkan. Perubahan yang terus-menerus berlangsung itu disikapi orang Jawa dengan ungkapan aja gumunan, aja kagetan, lan aja dumeh. Itulah intisari ajaran cokro manggilingan, yang menguraikan tentang siklus kehidupan umat manusia. Situasi mutakhir yang penuh kejutan dan pergolakan ini sering membuat orang kehilangan pijakan, sehingga kehidupannya tidak terarah. Seharusnya orang mengetahui hakekat hidup atau wikan sangkan paraning dumadi. Pengetahuan mendasar mengenai asal-usul kehidupan dan orientasinya perlu diketahui oleh setiap insan. Dengan harapan kehadiran manusia di muka bumi ini akan memahami jati diri dan makna hidupnya. Bagi orang Jawa urip mung mampir ngombe yang bermakna bahwa hidup ini bersifat sementara. Masih ada kehidupan setelah kematian yang dinamakan dengan istilah jaman kelanggengan. Untuk mencapai kesuksesan di jaman kelanggengan itu maka manusia hendaknya mengutamakan pekerti, pakarti dan pakerti, yang berupa amal kebaikan.

Minggu, 15 Mei 2011

AJARAN KEJAWEN, HASTA BRATA

Yaitu ajaran kepemimpinan Jawa yang merupakan pedoman raja2 Jawa dalam memimpin dan didasari pada pengamatan dari sifat-sifat alam semesta, karena secara tidak disadari alam semesta juga telah memberikan pelajarannya secara tidak langsung kepada kita.

Antara lain, yaitu :

1. Sifat BUMI, sebagai manusia harus dapat bersikap rendah hati, jujur dan dapat memberikan apa2 yang bersifat positif seperti halnya dengan bumi yang kita pijak (welas asih murah hati ).

2. Sifat LANGIT atau ANGKASA. Sebagai manusia hendaknya harus dapat berwibawa dan berguna / bermanfaat seperti halnya langit yang senantiasa memberi hujan kepada bumi agar kehidupan di bumi dapat terjaga. (jembar manah, ‘lapang dada’).

3. Sifat MATAHARI, sebagai manusia harus dapat memberikan semangat / motivasi baik kepada diri sendiri maupun pada orang lain seperti halnya matahari yang senantiasa memberikan sinar / energinya.(tempat tumpuan kehidupan)

4. Sifat SAMUDERA, sebagai manusia hendaknya mempunyai cara pandang yang luas dan mampu menampung segala masalah seperti halnya lautan yang tiada bertepi dan menampung semua yang masuk ke lautan.(tiada menonjolkan diri)

5. Sifat REMBULAN, sebagai manusia hendaknya dapat melakukan hal2 yang menyenangkan seperti indahnya rembulan dan dapat menjadi penerangan selagi dalam kegelapan seperti halnya rembulan yg bersinar dimalam hari. (tempat pemberian pitutur, nasehat luhur).

6. Sifat BINTANG atau KARTIKA, sebagai manusia hendaknya dapat menjadi panutan seperti halnya bintang dilangit yang dijadikan petunjuk arah bagi pelaut yang sedang berlayar di waktu malam. (kokoh dalam bertindak dan tidak mudah tergoyahkan dalam arti tidak mudah terpengaruh).

7. Sifat ANGIN atau UDARA sebagai manusia hendaknya dapat memberikan perasaan yang sama dan tidak pilih kasih seperti udara yang ada di setiap pelosok dan dapat dirasakan oleh semua orang tanpa membedakan usia, pangkat dan derajat dan lain2. (Adil tanpa membeda-bedakan).

8. Sifat API, sebagai manusia hendaknya dapat bersikap tidak 'mencla-mencle' tetapi tegas dan berani bertindak tanpa pandang bulu seperti halnya api yang membakar apa saja yang menghadang, misalnya saja penegakan hukum atau pemberantasan korupsi, kejahatan, maka para pejabat harus mempunyai nyali seperti api.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar